Monoteisme melalui kitab sucinya menceritakan peristiwa pemberontakan terbesar dalam sejarah awal umat manusia. Ada beragam versi dari cerita ini, seperti iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam sebab ia merasa api lebih mulia daripada tanah. Atau kisah Lucifer, sang malaikat jatuh yang terlalu pintar dan sombong. Namun, keduanya memiliki kesamaan, yaitu menentang perintah Tuhan dan terusir dari surga. Bagai menyimpan dendam sepanjang hayat, atau pengabdian yang tak kita mengerti, keduanya lantas membuat perjanjian dengan Tuhan untuk menggoda manusia agar berbuat dosa.
Dalam pengantar bukunya The Encyclopedia of Demons and Demonology, Rosemary Ellen Guiley menjelaskan hadirnya Monoteisme menciptakan polarisasi yang tegas antara baik dan jahat. Sang Pencipta tunggal itu baik, tetapi Ia membiarkan kejahatan berada di bawah arahan musuh utama (iblis dan sebagainya). Maka, manusialah yang menentukan jalannya sendiri, ia dapat memilih ingin menjadi baik atau jahat. Namun, alih-alih memilih, manusia seringkali menyikapi perbuatan dosa ini sebagai suatu penghiburan atas diri sendiri. Jika manusia melakukannya, alibi yang selalu muncul adalah kekhilafan sebab tergoda akan godaan setan.
Lantas timbul pertanyaan, apa yang terjadi di luar Monoteisme? Lebih jauh Guiley menceritakan, bahwa setan memiliki sejarah panjang untuk mengganggu urusan dunia dan kehidupan manusia yang tidak melulu bertujuan untuk menyesatkan jiwa. Seperti kisah Jin dalam cerita rakyat Arab. Konon, dahulu Bumi dihuni oleh bangsa Jin, mereka lantas diusir oleh Tuhan untuk menguntungkan manusia. Merasa tanah air mereka telah direnggut, bangsa Jin menyimpan dendam untuk terus melakukan perang gerilya dan teror terhadap manusia.
Dengan menghadirkan perspektif yang segar dalam melihat mahluk gaib, Goenawan Mohamad yang beberapa waktu lalu menjadi Pecinta Hewan, kini beralih menjadi Paranormal. Ia memamerkan dua buah kitab hantu yang berisikan total dua puluh tujuh gambar hantu beserta teks narasinya dalam “Kitab Hantu” di ARTJOG – Motif: Lamaran pada tahun ini.
Siasat yang digunakan GM dalam pameran ini cukup pintar. Ia seolah bermain-main dengan Monoteisme; meluruhkan batas polarisasi dengan membuat sejarah alternatif para hantu. Lebih jauh, GM menautkan “peristiwa berhantu” pada gejolak sosial yang terjadi di Indonesia. Mulai dari migrasi hantu, kolonialisme, hingga budaya populer. Yang menarik adalah, GM tidak menggunakan kata setan/iblis (demon), tetapi ia menggunakan kata hantu (ghost) sebagai penggambaran dedemitan.

Sebelum menyusuri cerita dalam Kitab Hantu lebih mendalam lagi, mari kita susuri bagaimana para hantu itu menghuni salah satu ruangan di Jogja National Museum. Ruangan para hantu itu berlatar gelap, sesekali terdengar suara burung seolah menandakan hari mulai surup. Suasana mistis telah dibangun sedari awal pengunjung memasuki ruangan itu, tetapi kesan mistis itu tak mendorong rasa merinding. Barangkali karena GM tak ingin menakut-nakuti para pengunjung yang datang melihat karyanya. Sebagai seniman undangan, ia mengemban tugas mulia untuk menghibur para pengunjung.
Hantu-hantu yang biasanya kita temukan berada di perkuburan, rumah kosong dan bangunan angker lainnya, kini bermigrasi menuju etalase modern yang terang dan menentramkan. Mata kita lantas menangkap lebih dahulu teks dinding yang menyampaikan biografi GM dengan serius. Seolah menjadi kata pengantar untuk kita bersama-sama menelusuri (secara serius pula) motif hantu dalam pameran ini. Tak tanggung-tanggung, GM bisa menjadi apa saja: penyair, penulis, hingga filsuf. Sisi akademisnya pun tak main-main, mulai dari UI hingga Harvard pernah ia kenyam. Itulah sebabnya ia dijuluki sebagai raksasa intelektual dari Asia. Karena kecerdasan dan sumbangsihnya pada kebudayaan hingga politik di Indonesia.
Namun, semua predikat itu seolah tak cukup bagi GM. Ia menyusuri wilayah lain, wilayah para hantu. Maka, dengan gambar yang imajinatif berpadu teks yang lucu sekaligus ironis, GM seolah menjadi Paranormal sekaligus petugas sensus untuk mendata (motif) hantu-hantu di Indonesia. Yang menurut ARTJOG, aktivitas sensus ini dipandang sebagai representasi komprehensif dari mahluk gaib.
Sebagaimana para intelektual publik lainnya, GM tetaplah rendah hati. Ia tidak ingin karya ini ditanggapi secara serius, itulah sebabnya ia menuliskan “Ancang-Ancang” untuk menyusuri pamerannya ini. Ia mengakui bahwa ia belum pernah bertemu dengan hantu, sebagaimana ia belum pernah bertemu dengan Gal Gadot. Maka, gambar yang hadir dalam pameran ini adalah sebentuk penampakan sekali tangkap; seperti impresi atas hantu-hantu. Tak seperti Guiley yang meneliti para setan dan kajian akan kesetanan lantas menyusunnya berdasarkan entri A sampai Z ala ensiklopedia. GM sama seperti kita yang didatangi oleh hantu melalui cerita dan imajinasi.

Cerita dan imajinasi akan hantu ini, sedari dahulu telah dibangun melalui tuturan dari orang tua. Biasanya tuturan ini bersifat peringatan dan berfungsi sebagai alat untuk menakut-nakuti agar patuh terhadap perintah jika tidak ingin terkena balanya. Seperti jangan keluar di waktu magrib karena nanti diculik Wewe Gombel, dan sebagainya. Hadirnya medium lain seperti tontonan horor, gambar umbul, hingga situs primbon, menyempurnakan bagaimana cerita dan imajinasi akan hantu semakin tampak nyata.
Sebut saja yang paling membekas, mungkin kita akan teringat film-film yang dibintangi oleh Suzzanna. Atau sedari kecil, kita telah dipaksa untuk menjadi moralis: membandingkan pocong Mumun yang bermata hijau dan kalem, berlawanan dengan pocong Jefri yang menampakkan gigi taring dan mata merah menyala yang senang mengusik masyarakat dalam sinetron Jadi Pocong.
Namun, agaknya pengalaman GM lebih menarik. Ia lebih menyukai film Hollywood, Interview with the Vampire yang dibintangi oleh Brad Pitt. Mungkin, GM merasa tak ada ‘hantu laki-laki’ dalam film horor Indonesia yang cukup berkesan baginya. Mungkin juga, GM merasa film horor di Indonesia terlalu monstrous-feminine. Seperti data yang dipaparkan dalam buku Memaksa Ibu Jadi Hantu:
Jumlah film horor Indonesia yang diproduksi dari ketiga periode tersebut, yakni 1970-2020, adalah 580 film horor. Sebanyak 60,52% atau 351 film horor di Indonesia menghadirkan sosok perempuan sebagai hantu, 24,14% atau 140 film horor di Indonesia menghadirkan sosok laki-laki sebagai hantu, dan terakhir 15,34% atau 89 film horor di Indonesia menghadirkan sosok perempuan dan laki-laki sebagai hantu. Sepanjang perjalanan sejarah film horor di Indonesia, perempuan jauh lebih sering dijadikan tokoh protagonis sekaligus sosok hantu utamanya. — A.W. Larasati & J. Adiprasetio, 2022: 108.
Dengan kata lain, GM seolah muak dengan wacana film horor di Indonesia yang menyudutkan perempuan. Itulah mengapa ia lebih menyukai film Hollywood, ketimbang film horor Asia. Meskipun menyeramkan, setidaknya Interview with the Vampire menunjukan sisi humanis: bahwa hantu juga bisa ganteng dan melankolis.
Dari Hantu Jawa, Hingga Intelektualitas Berbalut Horor dan Humor

Sebagai Paranormal baru, GM tampaknya masih bersifat Jawasentris dalam mendata hantu-hantu. Pernyataan yang disampaikan kurator ARTJOG pun terlalu berlebihan jika menganggap GM telah menggambarkan sensus hantu di Indonesia.
Kita berangkat dari Jawa. Bahkan dalam dunia hantu pun Jawa tetap mendominasi. Terdapat dua belas titik hantu yang tersebar dari Jakarta hingga Jawa Timur. Hantu-hantu itu adalah: Ngono-Ya-Ngono, Glundhung Pringis, Pocong, Jenana Badra, Hantu Samar, Jim Isin, Hantu Blendhuk, Hantu Over-Acting, Hantu Rapopo, Hantuologi, Hantu Kuda Nangis, dan Hantu Erotis.
Sementara di luar pulau Jawa hanya terdapat dua titik hantu, yaitu Tiga Sekawan, dan Hantu Srenggi. Hadirnya dua interaksi hantu dari Luar Jawa ke Jawa yang digambarkan melalui Orang Pote dan Suanggi, menunjukan betapa Jawa dipandang sebagai pusat dalam denah “skena” hantu di Indonesia.
Sebelas hantu lainnya, berada dalam radar Luar Negeri atau Tidak Terlacak. Hantu-hantu itu antara lain: Sundel Bolong, Bukan MC, Hantu Eks-Singapura, Hantu Peti, Hantu Atlet, Hantu Kuliner, Hantu Liuk, Hantu Wajah Runcing, Hantu Pinjol, Hantu dan Detektif, dan Hantu Cabe Rawit.

Kemunculan hantu-hantu ini, lebih sebagai siasat GM untuk mengajak kita bermain-main dengan realitas. Lebih lanjut, saat acara Meet the Artist, GM beranggapan karya-karya di ARTJOG terlampau serius, ia ingin menghadirkan yang santai dan bersifat guyonan. Namun, bagaimana kita menanggapi yang bersifat guyonan ini jika dihadirkan dalam ruang publik? Apakah humor yang dipakai GM berhasil mengajak kita bermain-main? Atau jangan-jangan humor garing itu, tak lain adalah cara GM untuk menunjukan sisi intelektualnya?
Coba kita lihat hantu “Sundel Bolong”, yang berasal dari kata ‘sundal’ yang bermakna: buruk kelakuan (tentang perempuan); lacur; jalang. Dan ‘bolong’ yang berarti berlubang tembus. Mitos di masyarakat mempercayai bahwa semasa hidup, hantu ini adalah perempuan jalang yang menjadi korban pemerkosaan dan meninggal dalam keadaan mengandung. Hantu itu pun menjadi arwah gentayangan dengan lubang menganga yang menyeramkan di punggung.
Ketenaran mitos itu, menurut Ghaliyah (2018) semakin tampak nyata berkat industri perfilman pada era Orde Baru, seperti film Sundel Bolong (1981) yang diperankan oleh Suzzanna, situasi politik pada rezim Orba semakin memperkuat bentuk objektivikasi dan domestifikasi terhadap tokoh perempuan yang digambarkan melalui pengadeganan tragis, bahwa perempuan adalah sosok yang tak berdaya; sering dijadikan objek kekerasan (pelecehan, pemerkosaan, hingga pembunuhan), dan semasa hidup perempuan seolah tak diberi kesempatan untuk berbicara apalagi melawan. Itulah sebabnya dalam film pada era tersebut, sering kita temukan para perempuan yang menjadi hantu mempunyai motif untuk membalas dendam kepada para pelaku kejahatan yang utamanya adalah laki-laki.

GM menggunakan eufemisme untuk memperhalus narasi tentang “Sundel Bolong” menjadi “Mahluk Betina Gigih Berlobang”. GM seolah ingin mengkritik kultur patriarkal dalam masyarakat kita. Namun, saya merasa ada kejanggalan, ia menggunakan kata ‘Gigih Berlobang”, dan lihatlah lukisannya. Lubang yang semula identik berada di punggung menembus hingga perut, GM pindahkan menjadi berada di sekitar area kelamin.
Selain bermain dengan mitos hantu, GM juga menyinggung kolonialisme yang terjadi dalam dunia hantu, seperti kisah “Hantu Blendhuk” yang muncul di Semarang pada Desember 1764, hantu itu berinteraksi menggunakan bahasa Belanda dengan Pendeta de Vries, Sang Pendeta tentu merasa senang, sebab dampak dari kolonialisme berhasil merasuk ke dalam kalangan mahluk halus.

Lain halnya dengan kisah “Glundhung Pringis” yang semula dilihat dan diberi nama The Grinning Roundhead oleh Raffles pada Februari 1812 di Semarang, tetapi si hantu tidak setuju. Barangkali nama yang diberikan itu terlalu londo. Setelah hampir lima puluh tahun, seolah terjadi proses pembebasan dan penolakan terhadap kolonialisme, si hantu lantas mengadu pada Ronggowarsito, dan memeluk islam.
Yang menarik adalah bagaimana GM menghadirkan Monoteisme beserta lembaganya, sebagai jalan penyelesaian, seperti dua kisah hantu tadi. Hal ini juga ditemukan dalam kasus “Hantu dan Detektif”, saat ketua serikat jin Islam berunding dengan MUI yang menganggap cerita detektif itu menyebarkan sekularisme dan Zionisme, tak sesuai dengan pembangunan infrastruktur.

Dalam narasi-narasinya, GM seolah tak dapat terlepas akan preferensi dunia Barat. Seperti di awal tadi, ia lebih menyukai film Interview with the Vampire, novel Anjing Setan karya Sir Arthur Conan Doyle dalam “Hantu dan Detektif”, sesosok hantu yang mengaku sebagai tokoh Marvel Comic dalam “Bukan MC”, hingga kisah hantu “Ngono-Ya-Ngono” yang berkeinginan menjadi vampir tetapi tak lulus S-3.
GM boleh jadi menunjukan bagaimana pluralisme dalam dunia hantu dibentuk atas dasar penggabungan dunia, baik yang kedaerahan maupun kebarat-baratan. Namun, modernisme Barat dalam cerita yang GM pakai, menunjukan kegoyahan identitas dari para hantu lokal. Alhasil ketakjuban-ketakjuban untuk diakui sebagai hantu selalu menggunakan kacamata Barat.
Sedari awal, siasat humor telah dibangun dalam narasi-narasi para hantu. Hanya saja, kebanyakan dari siasat humor ini cenderung garing dan terlalu memaksakan. Seperti “Hantu Kuliner”, meski menggunakan kata kuliner, hantu ini justru mengganggu para pengunjung dengan meneriakkan “Merdeka! Mari makan jengkol!”, dan pengunjung pun ngibrit. Bukan karena takut hantu, tapi takut jengkol. Ada semacam logika pembalikan dari hantu pelaris yang biasa dipakai untuk mendatangkan pengunjung.

Kegaringan jelas terasa pada kisah “Jenana Badra” yang menggunakan trik-trik baru untuk menakut-nakuti manusia dengan menyanyikan lagu ciptaan Tony Prabowo, yang tak lain adalah kawan dari GM sendiri. Para hantu ini pun dijadikan sebagai alat untuk candaan-candaan internal, yang tak dimengerti sepenuhnya oleh kalangan umum. Atau bisa kita hadirkan, bahwa “Jenana Badra” itu sebenarnya adalah seorang aktor yang tergabung dalam Teater Utan Kayu, hingga saat ini ia masih menunggu giliran untuk pentas di kelompok teater itu. Barangkali, candaan seperti ini lebih dipahami oleh umum.
Sedari awal, GM memang tak ingin membuat “pengalaman berhantu” agar dirasakan para pengunjung yang datang ke pamerannya. Ia cenderung ingin bermain-main, menunjukkan kepintarannya dengan meminjam kisah para hantu. Alhasil, ruangan pameran itu pun benar-benar tak bernyawa; hampa.
Padahal, GM bisa membangun “pengalaman berhantu” buatan ini dengan meminjam komposisi sederhana dari Brandon Massullo, penulis buku The Ghost Studies: New Perspectives on the Origins of Paranormal Experiences menggunakan:

Semisal seperti semesta film The Conjuring, seringkali Lorraine Warren melakukan, mengatasi hingga mengajak para karakter lainnya memasuki “pengalaman berhantu” itu, atau Film Ghostbuster yang benar-benar memanfaatkan medan listrik untuk mendeteksi hingga menangkap hantu. Sekalian saja jika ingin merujuk ke Barat, GM dapat menghadirkan EMF (electromotive force) Meter untuk menunjukkan keberadaan atau aktivitas hantu. Mengingat bahwa hantu, konon, juga memiliki medan listriknya tersendiri. GM juga bisa menggunakan Ghost Box, semacam alat untuk berkomunikasi secara verbal dengan hantu-hantunya melalui frekuensi radio atau televisi secara acak yang dapat menangkap ‘sinyal’ dari para hantu. Hal ini, tentu akan menguatkan konsep pameran GM yang seolah dapat berkomunikasi dengan hantu meski belum pernah bertemu dengan hantu.
Sebenarnya, GM telah mencoba membangun kesan mistis melalui kicau burung malam. Namun, suasana mistis belum terbangun seutuhnya, video proyeksi malah menunjukkan bagaimana GM ‘mencetak’ hantu-hantu itu, sehingga terputuslah pengalaman berhantu para pengunjung, beralih menjadi pengalaman intelektual ala GM.
Wawancara dengan Tiga Hantu
Untuk memperkuat argumen saya, berikut terlampir hasil wawancara dengan tiga hantu yang juga pernah ditemui oleh GM dalam proses penyusunan pameran “Kitab Hantu”. Ketiga hantu ini adalah: Anjing Jeruk Purut, Hantu Budeg, dan Si Muka Rata. Mereka menerima ajakan saya, sebab mereka kecewa karena tak dimasukkan oleh GM ke dalam Kanon Hantu Indonesia. (Catatan: Hantu Jeruk Purut sangat kecewa, sehingga ia memilih kembali pada aktivitas sehari-hari; mencari kepalanya. Jadi, ia mengirimkan anjingnya untuk saya wawancarai.)
Saya: Sudah datang ke ARTJOG?
AJP: Belom, dan kayanya kami enggak akan dateng, deh. Kami kecewa karena tak ada nama kami di pameran itu. Padahal si GM itu, merayu kami dengan puisi tujuh rupa. Eh, setelah wawancara dia ngilang gitu aje.
Saya: Mungkin cerita kalian tidak menarik, sehingga tidak dimasukkan ke dalam Kitab Hantu?
SMR: (Menggeleng).
AJP: Menarik atau tidaknya, kan, tergantung sudut pandang. Kami ini mahluk mati, lho. Ya, harus dihargai, GM itu sok-sokan mengutip Chairil, dia juga lupa kalau Chairil pernah bilang: “Semua harus dicatet, semua dapat tempat”.
SMR: (Mengangguk).
Saya: Di dunia kalian, lebih terkenal Gus Sholeh Pati atau Goenawan Mohamad?
AJP: Bukan masalah terkenal, Gus Sholeh Pati itu seniman sejati, pelukis astral sesungguhnya. Beliau bisa merasakan aura dan kehadiran kami, lalu melukiskannya, dan bagus! Mungkin di dunia kalian dikenal sebagai aliran impersionisme, gitu, ya? Kalau GM, sudah seperti negara, mendata kami, menggolongkan kami. Lukisannya bagi saya juga gak bagus-bagus amat, meski ada usaha untuk menggunakan impresionisme juga. Cuma jelas terasalah perbedaannya itu. Tapi, kalau di dunia kalian itu, modal kan masih yang utama. Di sini, cuma amal yang berkuasa. Nah, sekarang gantian saya tanya, apa pernah Gus Sholeh Pati pameran di ARTJOG? Kan enggak. Kami hormat setinggi-tingginya sama Gus Sholeh Pati.
SMR: (Mengangguk-angguk).
Saya: Menurut Hantu Budeg, bagaimana?
HB: Hah? Apaan? Dulu matinya begimanah? Begini…
Saya: Bukan itu pertanyaan saya.
HB: Lah yak itu, bener! Di Kebayoran jaman dulu, kite lagi ngorek kuping terus cegukan, kecolok momplok, modar tuh kite. Kebetulan yang ngorekin kuping kite itu belande, die pake bayonet. Mati tuh kite.
Saya: Aduh, saya nanya sama Anjing Jeruk Purut terus aja deh, Hantu Budeg ga nyambung.
HB: Makannya, zaman dulu ntuh dikenal namanya…
SMR: (Mengajak HB pergi).
Saya: Jadi, kalau menurut kurator ARTJOG, pameran GM itu dipandang sebagai sensus hantu Indonesia, dan menampilkan representasi komprehensif dari mahluk gaib, setuju?
AJP: Enggak, ngawur itu pernyataan. Dah subuh, saya mau pergi mencari tuan saya…
Daftar Pustaka:
- Ghaliyah, Bunga Dessri Nur. (2018). Sundel Bolong: Figur Mistis Gambaran Ideologi Patriarki. Diakses pada 10 Juli 2023, dari Sundel Bolong: Figur Mistis Gambaran Ideologi Patriarki (jurnalperempuan.org)
- Guiley, Ellen Rosemary. (2009). The Encyclopedia of Demons and Demonology. Facts On File: New York.
- Larasati, A.W & Adiprasetio, J. (2022). Memaksa Ibu Jadi Hantu. Cantrik: Yogyakarta.
- Massullo, Brandon (2017). The Ghost Studies: New Perspectives on the Origins of Paranormal Experiences. Weiser: Massachusetts