(Tulisan ini merupakan bahan Kuliah Umum Citra Sasmita di Sotheby’s Institute of Art, London, Inggris; pada Rabu 22 Januari 2025)
Persembahan dalam ritual masyarakat Bali dan representasi visual dalam ritual keagamaan serta dalam karya seni yang mengangkat tema kosmologis merefleksikan koneksi antara dunia yang tampak dan yang tak terlihat (the seen and the unseen world). (Light, 2023)
Saya meyakini hal inilah yang menjadi salah satu fondasi ideologis kesenian masyarakat Bali yang menjadi fokus utama dalam tulisan ini. Manifestasi kekuatan spiritual yang menjadi tujuan dari ritual adat di Bali dipercaya bisa tercipta melalui produksi dan reproduksi karya seni secara berulang-ulang, dengan menghadirkan unsur ruang dalam tubuh individu seniman dan masyarakat komunal sebagai dunia sekala (the seen) serta visualisasi dunia tak kasat mata dalam alam dewa, roh dan leluhur sebagai dunia niskala (the unseen).
Akses dan proses pemahaman terhadap kekuatan dari alam niskala tempat para roh leluhur dan bersemayamnya para dewa tersebut melalui suatu ritual dengan kompleksitas bentuk seni, yang tidak hanya melibatkan persembahan sebagai bentuk visual, pengalaman sensorial yang melibatkan musik, aroma, dan ruang teatrikal dengan dramaturgi prosesi upacara yang dipimpin oleh seorang pendeta) merupakan upaya orang Bali untuk menjaga keseimbangan kosmologi alam semesta, relasi manusia secara spiritual dengan Tuhan dan spirit alam bawah, juga secara proses praktiknya menjaga hubungan komunal dengan sesama manusia. Praktik ritual yang dimaksudkan untuk berkoneksi dan berkomunikasi dunia tak kasat mata masih berlangsung hingga saat ini yang menjadi memori bertumbuh saya sebagai manusia kultural di Bali, membawa saya pada kesadaran dan etika yang sama dalam menciptakan karya seni.

Dari segi bentuk dan proses penciptaan karya seni, masyarakat Bali mengenal adanya sifat kesementaraan (ephemeral) dan permanen dalam sebuah karya. Persembahan dalam ritual biasanya merupakan karya seni yang bersifat ephemeral, –karya-karya seni yang dibuat untuk tujuan ritual ini biasanya hanya digunakan sekali selama upacara berlangsung dan tidak terlalu mementingkan durabilitas karena sifat material seperti kayu, kain, daun kelapa dan kertas, tidak mampu bertahan cukup lama dalam iklim tropis di pulau Bali. Masyarakat tradisi Bali membuat karya untuk ritual secara kolektif dengan mengangkat narasi warisan atau ikonografi tertentu yang berfungsi sebagai distribusi pesan dan kebijaksanaan dimana pengetahuan tersebut diupayakan memiliki aksesibilitas dalam jangka waktu yang panjang dengan cara mendokumentasikannya dalam medium dengan durabilitas yang baik.
Meskipun masyarakat Bali bergerak dengan dinamika berpikir bahwa segala sesuatu dapat didaur ulang dan diciptakan kembali, -sebagaimana kepercayaan kami pada konsep reinkarnasi, repetisi dalam penciptaan karya seni merupakan cara untuk mewarisi dan menjaga keberlangsungan pengetahuan dari generasi sebelumnya, namun ada perlakuan khusus jika mengenai naskah dan manuskrip kuno yang menuliskan pengetahuan dan filosofi mengenai kepercayan masyarakat Bali yang berupa puisi lama (kakawin)[1] atau lukisan sakral yang disebut rerajahan.[2]
Dalam mendokumentasikan pengetahuan yang menjadi pedoman ritual ini, material yang dipakai seperti daun lontar (fan palm-leaves),[3] telah melalui beberapa proses seperti perendaman dan pengawetan dengan rempah-rempah tertentu kemudian pengeringan yang membutuhkan waktu yang cukup lama (Kam, 21).


Menulis di atas daun lontar merupakan kebudayaan yang sangat tua dan diperkirakan telah ada di Nusantara sejak abad ke 9 dimana menuliskan pengetahuan penting mengenai kepercayaan Hindu-Budha yang dianut oleh kerajaan kuno di Indonesia. Setelah kerajaan Hindu-Budha berakhir pada abad ke-15 yang ditandai dengan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa, ada banyak manuskrip yang dibawa bermigrasi ke Bali untuk diselamatkan dan disimpan di kerajaan Hindu kecil di Bali bagian timur tepatnya di wilayah Gelgel, Klungkung sebagai pusat kebudayaan dan kerajaan (modern) pertama di Bali (Creese).
Naskah-naskah berbahasa Kawi atau Jawa Kuno tersebut tidak hanya disadur secara berulang-ulang dalam pasraman (sekolah khusus) kaum Brahmana namun juga terintegrasi menjadi ritual keagaamaan dan sebagai bentuk kontrol dan pembangunan sistem sosial megalux ajaran-ajaran kosmologis. Manuskrip tersebut juga termanifestasi dalam bentuk kesenian secara holistik dan kompleks seperti lukisan, relief dan arsitektur, musik dan juga dalam seni pertunjukkan seperti tari dan wayang sebagai medium yang melengkapi dramaturgi ritual keagamaan di Bali.
Balai Kertha Gosa (hall of justice) yang dibangun sejak abad ke 17th merupakan salah satu peninggalan kerajaan Klungkung dalam kepemimpinan raja Ida I Dewa Agung Jambe (1686-1722). Bangunan arsitektur ini dapat dibaca sebagai salah satu implementasi manuskrip ke dalam karya fungsional yang tertulis dalam manuskrip Asta Kosala Kosali.[4] Lukisan wayang Kamasan yang menjadi latar langit-langit Kertha Gosa menjadi pelengkap sakralitas bangunan tersebut yang pada awalnya difungsikan sebagai tempat pelaksanaan upacara ritual, tempat mahkamah agung kerajaan, kemudian beralih fungsi menjadi tempat pengadilan dalam masa penjajahan Belanda. Lukisan Kamasan sengaja ditelaah sebagai fokus utama saya dalam tulisan ini, khususnya sebagai penghubung ideologi kultural saya dan sistem bekerja saya sebagai seniman kontemporer.

Lukisan Kamasan merupakan seni lukis pertama yang mulai berkembang di Bali pada abad ke-15 yang banyak mengilustrasikan manuskrip dan naskah kuno dalam bentuk visual sebagai bahasa yang lebih mudah dimengerti oleh kalangan yang tidak bisa membaca aksara dalam naskah lama. Lukisan ini dibuat oleh para pelukis di desa Kamasan yang secara geografis juga terletak di pusat kerajaan Klungkung. Pelukis Kamasan dipercaya keahliannya oleh raja untuk melukiskan kisah-kisah genealogis dan kepahlawanan para leluhur raja misalnya naskah Panji,[5] serta naskah-naskah lain yang berhubungan dengan sistem pemerintahan serta ideologi religius dan kepercayaan masyarakat Bali.


Lukisan Kamasan ini pula yang kemudian menjadi fondasi dari pengembangan Timur Merah Project (The East is Red Project), sebuah project jangka panjang yang saya kerjakan dari tahun 2019. Sebagai upaya saya dalam menelusuri akar sistem patriarki yang diwarisi di Bali, saya menemukan berbagai macam percabangan hipotesa mengenai kehidupan perempuan dalam kebudayaan Bali dari zaman kolonialisme Belanda, gerakan perempuan dalam dunia politik dan intelektual yang ditandai dengan berdirinya organisasi Poetri Bali Sedar (1936) [7] hingga berakhirnya masa kolonialisme Belanda. Membaca ulang sejarah dan memahami polanya secara pewarisan narasi,- sebagaimana sejarah, kanon kusastraan dan kesenian dipolitisasi hingga berpusat pada heroisme dan kepentingan laki-laki sebagai penguasa. Secara sadar saya mengkonter pembacaan sejarah yang bersifat otoritarian tersebut menjadi statement politis dan dalam versi subjektif.
Dalam penemuan saya terhadap lukisan Kamasan lama, narasi dan ikonografi yang saya temukan begitu minim dalam menggambarkan subjek dan peran penting perempuan. Sebagai seniman saya mengupayakan opini politis saya dengan mengubah pakem lama ini, dimana karakter perempuan biasanya hanya digambarkan sebagai pendamping, objek seksual atau digambarkan sebagai penyihir sakti dengan wajah buruk rupa. Dalam karya saya, figur perempuan diubah menjadi karakter protagonis serta tokoh utama dalam lukisan dan visi karya Timur Merah Project.
Dalam tradisi melukis Kamasan, para pelukis mengikuti pakem atau tata cara yang tidak hanya berupa teknik dasar melukis namun etos kerja serta narasi yang diwariskan secara turun temurun. Biasanya anak laki-laki mewarisi cara membaca naskah kuno atau cerita narasi secara oral dari orang tua mereka sehingga biasanya anak laki-laki lah yang mampu membuat sketsa beserta komposisi serta alur cerita dalam bidang kanvas ini. Perempuan biasanya menjadi ahli warna dan meracik pigmen dari batu-batu mineral seperti batu pere.[8] Para perempuan akan menghancurkan batu mineral tersebut hingga menjadi bubuk kemudian mencampurkan larutan lem dari rendaman bagian dari kulit sapi sebagai bahan perekat alami untuk warna. Selain warna oker, cinnabar, [9] warna merah yang mereka dapatkan dari orang Cina menjadi pilihan utama dalam proses pewarnaan lukisan dibandingkan dengan pewarna dari tumbuhan karena warna-warna dari mineral tersebut mempunyai durabilitas yang lebih baik.
Pada tahun 1950an, kemunculan Ni Made Suciarmi menjadi salah satu penanda penting dalam diskursus perempuan pelukis dalam sejarah seni visual di Bali. Beliau mempelajari narasi dan mengerjakan teknis yang biasanya dilakukan oleh laki-laki, mulai dari membuat sketsa dan mengerjakan pewarnaan hingga proses paling akhir dalam teknik melukis Kamasan yaitu proses nyawi (proses outline dalam figure dan objek yang sudah diwarnai) yang secara filosofis sama maknanya dengan memberikan hidup dan jiwa pada lukisan.
Tidaklah banyak perempuan yang menjadi ahli sketsa dalam sosiokultural pelukis Kamasan, karena lazimnya para perempuan mengambil peran dalam aspek lain seperti bertani, mengatur wilayah domestik dan membuat perlengkapan peralatan upacara ritual yang sifatnya lebih simbolik dan temporer, sehingga seringkali kaum perempuan lebih memahami dan menguasai hal-hal yang lebih praktikal daripada mendapat kesempatan untuk mendalami aspek pengetahuan yang ideologis.

Sebagai perempuan pelukis Kamasan, Ni Made Suciarmi dan beberapa generasi setelahnya, seperti Ni Wayan Wally, dan Mangku Muriati berada dalam kemapanan situasi tradisi patriarkhis dimana peran laki-laki dan perempuan telah diatur sedemikian rupa dan telah diwariskan secara turun temurun. Perjalanan aktualisasi diri mereka sebagai perempuan pelukis membutuhkan strategi kultural hingga mendapatkan akses terhadap pengetahuan yang spesifik mengenai narasi dan teknik melukis Kamasan terutama penerimaan masyarakat terhadap profesi serta eksistensi mereka sebagai pelukis. Mangku Muriati misalnya, terpilih oleh sesuhunan [10] (spirit dewa dalam alam roh) sebagai perempuan pendeta kemudian mengabdikan diri kepada masyarakat sehingga penerimaannya sebagai pelukis dan akses terhadap naskah dan pengetahuan lama merupakan hal yang bisa diterima sebagaimana mestinya.
Keliyanan perempuan pelukis Kamasan dan terbatasnya akses yang mereka dapatkan untuk mempresentasikan karya dalam ruang apresiasi serta luputnya sejarah seni rupa menuliskan dengan seksama kiprah mereka sebagai seniman, tidak serta merta membuat mereka berhenti menganggap kesenian sebagai jalan hidup yang mereka pilih. Berkarya dalam paradigma masyarakat yang tidak berubah serta menghadapi tantangan kultural membuat mereka melakukan upaya inovasi dan pengembangan pada karya tradisi dengan memberikan konteks baru, alih-alih hanya menerjemahkan narasi warisan yang bersifat kanon ke dalam bentuk visual, secara fleksibel mereka juga mampu memberikan opini terhadap situasi terkini yang mereka hadapi sebagai perempuan Bali.
Ni Wayan Wally misalnya dalam karya berjudul Brayut (2009) yang digambarkan dengan karakter tokoh dengan busana moderen. Brayut sendiri merupakan cerita rakyat kuno Bali yang dekat dengan ajaran Budha Tantra yang mengisahkan fase-fase kehidupan manusia dari kelahiran hingga ke puncak spiritualitas dan kematian. Konteks ikonografi yang dibawa Wally tidak lagi membawa versi Brayut versi masa lalu, namun dia berhasil membawa persoalan modernitas yaitu masyarakat tradisi versus turisme sebagai new kosmologi yang terjadi di Bali pada situasi saat ini.

Lukisan Kamasan biasanya dilukis membentang secara horizontal dalam ratusan meter kanvas yang akan digantung mengelilingi atap arsitektur tradisional Bali yang disebut ider-ider. Ider-ider merupakan sebuah konsep kosmologis dalam kepercayaan Hindu di Bali yang berarti memutari poros pusat antara makrokosmos dan mikrokosmos. Dalam konsep tata surya, bumi dan planet berotasi mengitari matahari sebagai pusat energi, begitu pula dalam ruang lingkup yang lebih kecil kehidupan manusia berputar dalam siklus dan narasi-narasi yang sifatnya filosofis bisa menjadi pedoman hidup dan menjadi solusi dari persoalan-persoalan yang mereka hadapi sehari-hari.
Ider-ider ini banyak saya implementasikan dalam karya Timur Merah Project misalnya dalam karya Timur Merah Project IX: Beyond the Realm of Senses yang dipamerkan di 35th Sao Paulo Biennale 2023. Karya ini mengundang pengunjung untuk masuk ke dalam lingkaran instalasi lukisan dan dimana di tengah instalasi tersebut terdapat spotlight yang menjadikan mereka menjadi pusat atau aktor utama dalam kosmologi yang saya ciptakan.

Bentuk lain dari lukisan Kamasan yang saya implementasikan dalam instalasi lukisan Timur Merah Project adalah lamak (shrine hanging). Lamak biasanya dipasang di atas sanggah atau merajan (altar keluarga) atau tempat suci sebagai landasan persembahan kepada leluhur dan dewata sebagai sebuah penghormatan dan penyambutan mereka untuk hadir dalam upacara (Campbell). Bentuknya yang memanjang dan menjuntai hingga ke tanah seringkali diasosiasikan dengan tangga atau jembatan menuju surga yang menghubungkan alam dunia dengan alam dewata. Karya Allegory of Archipelago dari Timur Merah Project IX: Beyond the Realm of Senses selain mengadaptasi bentuk lamak juga secara implisit menjembatani gagasan mengenai sejarah kolonialisme di Bali di masa lalu dengan ekses-ekses yang dialami generasi hari ini.

Dalam pemahaman saya terhadap narasi warisan Bali yang banyak saya angkat dalam lukisan Timur Merah Project,- seperti kisah Bhima Swarga yang menjadi lukisan latar langit-langit Kertha Gosa yang dibuat pada periode pemerintahan Ida I Dewa Agung Istri Kania (1814-1850). Kisah perjalanan Bhima, salah satu pangeran Pandawa yang melakukan perjalanan ke dunia supranatural yaitu dari alam manusia ke alam neraka untuk menemukan spirit orang tuanya. Ia memporakporandakan seisi neraka ketika mencari arwah ayah dan ibunya kemudian membawa mereka ke alam surga, fragmen kisah ini merupakan suatu simbolisasi ketidakseimbangan dunia secara kosmologis. Pengalaman Bhima menyaksikan mahluk-mahluk anthromorpik yang melakukan berbagai macam siksaan kepada spirit manusia akibat karma perbuatannya semasa hidup secara implisit menggambarkan situasi kolonialisme yang terjadi di Bali. Kemudian untuk mendapatkan surga untuk dipersembahkan kepada arwah orang tuanya Bhima pun harus berperang dengan para dewata yang menghuni dunia atas. Surga yang dimaksud tentunya Pulau Bali yang dijajah kolonial Belanda dari tahun 1846 hingga Bali dikuasai secara de facto setelah perang Puputan[11] terakhir di Klungkung pada tahun 1908.

Sebagai konsekuensi moril, politik diplomasi kebudayaan yang disebut Baliseering [12] sengaja dirancang oleh Belanda sejak tahun 1920 untuk mengganti strategi perang. Upaya ini tidak pernah bisa menjadi rekonsiliasi atas kejahatan mereka di masa lalu, karena masih banyak ekses-ekses dan residu kolonialisme yang membekas dalam sistem kultural di Bali. Terjadi perubahan struktural pada pola pemerintahan dan birokrasi masyarakat. Termasuk dalam perombakan fungsi pada ruang publik yang semula dikelola oleh kerajaan, menjadi dikelola oleh pemerintah Belanda. Hal ini juga berimbas pada transformasi ruang sakral yang semula digunakan untuk tujuan spiritual, berganti menjadi ruang yang lebih bersifat administratif. Pemerintah Belanda juga mengganti banyak patung-patung sakral dengan menara jam sebagai suatu simbol yang menggiring masyarakat Bali dari ideologi religius (monotheism) menjadi lebih materialistis (moneytheism).
Namun, pola pikir mitologis bagi sebagian masyarakat rural di Bali masih menemukan jalannya untuk bertahan dan menjadi kelindan dalam kehidupan saat ini. Kekuatan mitologi dalam masyarakat tradisi tidak hanya terus didaur ulang dalam tradisi oral dan ritual keagamaan serta produk seni tradisi yang dianggap sebagai artefak etnografi. Etos dan laku hidup seperti ini merupakan upaya masyarakat untuk merawat pengetahuan, tanah, dan isi alam tempat mereka lahir dan menjalani kehidupan. Masyarakat timur banyak bermain dengan simbol dan personifikasi dalam karya seninya dan tidak ingin dipahami secara harfiah. Suatu simbol dengan berbagai kemungkinan interpretasi akan membuka cabang baru pengetahuan.
Misalnya saja simbol naga dan ular dalam tradisi Hindu di Bali dalam kisah Naga Antaboga, pemimpin para naga. Antaboga dapat diartikan sebagai sumber alam yang berkelimpahan dan tidak ada habis-habisnya. Dalam ritual Nyegara-Gunung [13] di Bali, naga Antaboga juga dapat diartikan sebagai lanskap geografis Pulau Bali, dimana ekornya adalah gunung tertinggi di Bali yaitu Gunung Agung, sisik dan badannya adalah sungai, sedangkan kepalanya adalah lautan. Hal tersebut juga memberikan saya inspirasi untuk merepresentasikan ikonografi ular yang memakan ekornya sebagai simbolisasi siklus pada alam yang terjadi pada alam secara berulang-ulang, atau simbol migrasi yang dilakukan oleh umat manusia untuk mencari sumber daya alam, atau juga menjadi alter ego seniman ketika melukis kan simbol-simbol dalam kanvas yang tidak tahu kapan bermula dan kapan akan berakhir.
Dalam merepresentasikan karya Timur Merah Project dalam suatu ruang, saya kerap kali ingin menawarkan pengalaman menikmati karya yang kompleks yaitu tidak hanya mengenai navigasi tubuh, namun juga pengalaman secara sensori melalui aroma rempah sebagai bahasa medium saya untuk membawa pada pembacaan mengenai sejarah perdagangan rempah dan kolonialisme yang terjadi di Nusantara. Dalam karya Timur Merah Project III: Ode to The Sun misalnya, saya menghadirkan bubuk kunyit yang menuliskan apropriasi puisi yang ditulis pada abad ke 14, Kidung Wargasari mengenai musim paling subur sepanjang tahun, musim yang selalu dinanti umat manusia dan bagaimana mereka merayakannya dengan melantunkan puisi dan ritual. Berikut terjemahan apropriasi puisi tersebut:
Thou Mother of Earth, Mother of Universe
The intangible, unthinkable
As the almighty creator of all that is seen and the unseen above the worldOnly for Your blessing and grace
Then words become a fountain and wisdom becomes the currentThe essence of the beginning is a necessity
As the days bend to the times
In a scene which is expertly played by its inhabitants;
Between giving and stealing lives,
There aren’t many choices

P.J. Zoetmulder seorang ahli sastra Jawa dan budayawan Indonesia kelahiran Belanda dalam bukunya Kalangwan (1983) mendeskripsikan mengenai etos kerja seniman tradisi yang berkonsentrasi pada konsep ketuhanan atau theosentrisme yaitu memusatkan segala daya cipta yang melingkupi proses daya pikir, daya rasa dan daya kerja saling terkoneksi dan berkesinambungan secara vertikal sehingga mampu tercapainya suatu manifestasi dari spirit ilahiah kedalam suatu karya seni. Karya seni tersebut mampu mempunyai daya gugah baik secara sadar ataupun tidak sadar, dengan atau tanpa preferensi, namun secara psikologi mampu membangkitkan sensasi yang transendental. Tujuan penciptaan karya seni yang saling berkesinambungan dengan perjalanan spiritual seperti inilah yang disebut dengan taksu,- terminologi dalam kebudayaan Bali mengenai aspek theosentris yang terimplementasikan dalam segala bidang kehidupan baik secara sosial dan ritual keagamaan. Aspek tersebut merupakan metode yang saya terapkan dalam proses mendesain, menciptakan karya dan memproduksi gagasan dalam Timur Merah Project sebagai suatu tawaran dalam seni rupa kontemporer yang lebih insklusif terhadap keberagaman estetika dan ekspresi seniman secara global.
Catatan:
- [1] Kakawin merupakan puisi berbahasa Jawa kuno, berasal dari kata kawi yang berarti puisi. Kakawin banyak mengisahkan nilai-nilai kebijaksanaan, filosofi dan spiritualitas kerajaan Hindu-Budha di Nusantara.
- [2] Rerajahan merupakan gambar sakral yang dibuat dengan mantra khusus oleh pendeta, berfungsi sebagai penolak bala, pemberkatan dalam upacara ritual, atau dalam upacara kremasi, rerajahan dipercaya sebagai transportasi yang menghubungkan spirit dengan alam leluhur.
- [3] Dalam pembuatan manuskrip di atas daun lontar, materialnya yang tipis dan panjang ditulis dengan menggunakan pena pisau (pengutik), setelah manuskrip atau prasi (ilustrasi gambar) telah ditorehkan, daun lontar kemudian digosok dengan menggunakan tingkih (candlenut) yang telah dibakar. Susunan daun lontar yang telah selesai ditulis kemudian dilubangi dan dijalin dengan benang untuk mengaitkan halaman satu dengan yang lainnya, ditutup dengan dua bilah bambu yang telah didekorasi atau dilukis dengan teknik yang sama sebagai sampulnya.
- [4] Asta Kosala Kosali merupakan manuskrip Bali kuno yang mencatat tentang konsep dan teknologi arsitektur tradisional Bali yang menggunakan anatomi tubuh manusia sebagai pedoman pengukuran serta memperhatikan aspek kosmologis seperti bentuk mandala, arah, waktu dan hari baik dalam proses pembangunannya.
- [5] Panji merupakan cerita seorang Pangeran yang melakukan ekspedisi dan penaklukan kerajaan lain untuk memperluas wilayah kekuasaan. Dalam cerita ini banyak mengisahkan kepahlawanan Paneran dari Kahuripan tersebut dalam berperang dan memperistri para putri dari wilayah yang telah dikuasainya
- [6] Lukisan Kamasan dilukiskan diatas kanvas yang dibuat secara tradisional oleh penenun dan pengerajin dari desa Kamasan, permukaan kainnya dilapisi tepung beras sebagai bahan perekatnya, dilukis oleh ahli sketsa yang menguasai narasi dan cerita pewayangan kemudian diwarnai dengan menggunakan berbagai macam batu mineral dan tumbuh-tumbuhan sebagai pigmen warnanya.
- [7] Poetri Bali Sedar merupakan organisasi perempuan di Bali yang diinisiasi oleh I Goesti Ayoe Rapeg pada tahun 1930. Organisasi ini banyak bergerak dibidang kesetaraan perempuan terutama memperjuangkan akses pendidikan dan kesenjangan kelas sosial yang terjadi pada masyarakat Bali. Organisasi ini pernah membuka sekolah pertama khusus perempuan di Bali pada tahun yang sama.
- [8] Batu pere merupakan istilah lokal yang dikenal oleh pelukis di desa Kamasan untuk jenis batu hematit berwarna coklat oker atau coklat kemerahan yang didapat dari pelaut-pelaut Bugis yang berlabuh di Bali pada masa perdagangan jalur laut. Para pelau Bugis menggunakan batu tersebut sebagai pemberat kapal ketika sedang berlabuh di Pelabuhan Benoa, salah satu pelabuhan penting dalam sejarah jalur perdagangan di Bali.
- [9] Cinnabar, mineral berwarna merah pekat yang merupakan biji utama merkuri ata air raksa. Biasanya digunakan sebagai pigmen cat atau pewarna kuno maupun sebagai bahan obat tradisional Cina.
- [10] Sesuhunan merupakan istilah lokal Bali yang merujuk pada spirit leluhur yang dipercaya sebagai pelindung umat manusia didunia. Pemilihan pendeta dan pemimpin spiritual di Bali biasanya melalui upacara yang melibatkan medium untuk memanggil arwah leluhur serta menyampaikan pesan dan penunjukan langsung kepada anak keturunan yang akan melakukan kewajiban spiritual dengan menjadi pendeta.
- [11] Puputan merupakan sikap kesatria untuk mengakhiri hidup yang dilakukan oleh Raja dan keluarganya kemudian diikuti secara massal yang dilakukan oleh rakyat Bali saat menghadapi serangan militer Belanda. Perang Puputan terjadi 3 kali di Bali yaitu Puputan Buleleng (1846), Puputan Badung (1906) dan terakhir adalah Puputan Klungkung (1908). Peristiwa besar ini telah memberikan akibat fatal berupa kekalahan moril pada penjajah Belanda.
- [12] Politik Baliseering merupakan agenda pemerintah Belanda sebagai bentuk rekonsiliasi kejahatan perang dengan membangun kebudayaan dan kesenian Bali. Pada masa ini banyak pelukis, seniman, antropolog dan etnografer Eropa datang ke Bali, membaca dan mempersiapkan identitas Bali sebagai living museum yang eksotik, menarik wisatawan dunia untuk berkunjung ke Bali.
- [13] Nyegara Gunung merupakan salah satu ritual di bali yang memusatkan energi spiritual yang bersifat maskulin pada gunung sebagai representasi lingga, serta energi feminim pada laut sebagai representasi yoni. Dalam ritual ini masyarakat tidak hanya melakukan ritus perjalanan dari gunung ke laut, namun dipercaya secara kosmologis perputaran siklus dan energi yang tidak terputus dari gunung ke laut.
Kepustakaan:
- Light, Astara. 2023. “Longing for the Unseen: Connecting to a Imagined Community through Offerings and Contemporary Art.” Cornell University.
- Kam, Garrett. (1993). “Perceptions of paradise: Images of Bali in the arts”Yayasan Dharma Seni Museum Neka. Ubud
- Creese, Helen. (2012). “Perempuan dalam dunia kakawin: Perkawinan dan seksualitas di Istana Indic Jawa dan Bali.” Pustaka Larasan.
- Campbell, Dr. Siobhan. (2014). “Encounters with Bali: A collector’s journey: Indonesian textiles from the collection of Dr. John Yu AC & Dr. George Soutter AM.” Mosman Art Gallery.
- Zoetmulder, P. J. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan, 1983.