Sebagai pengamat dan pelaku seni kontemporer di Bali, saya merasa buntu. Namun, setiap tahun baru Çaka hadir, saya merasa terbebaskan dari buntu itu lagi.
Saya menjadi bertanya-tanya dengan orang-orang yang selalu mempertanyakan eksistensi para penggambaran Bhuta Kala yang Bali Urban maupun yang Bali Kuno, yang intangible (tidak terbentuk/mulut ke mulut/tidak tertulis) maupun sudah jadi tangible (terbentuk/artefak/tertulis), entah dalam Kakawin, tergurat dalam lontar, maupun cetakan buku modern kontemporer – saya gemas sendiri.1
Sayang, saya bukanlah anak yang besar di sebuah Banjar di Bali. Saya bukanlah anak Bali ‘tulen’; saya pernah menjadi diaspora dan sekarang bagian dari dunia Bali Kuno. Saya akan terus mengatakan bahwa posisi saya saat ini adalah sebagai anak Bali yang baru belajar ‘adat’ Bali yang diberi kesempatan untuk perlahan mempelajarinya walaupun lebih cepat ditanya kapan anak pertama saya akan punya adik.
Awalnya saya sempat heran dengan adanya provokasi yang terjadi sesama pemuda Bali yang katanya tidak saling mengerti pembuatan ogoh-ogoh membutuhkan banyak tenaga dan
katanya teman-temannya itu memilih ke cafe. Lalu heran dengan orang yang masih heran dengan adanya perkumpulan-perkumpulan Banjar-Desa-Kabupaten yang akan terus punya pendanaan lebih dalam untuk membuat karya seni komunal kontemporernya setahun sekali itu. Lalu masalah sponsor membanjiri, memang plang-plang,
Hati2 Ada Upacara Adat
nggak ada sponsornya dari dulu? Sudah sejak 17 tahun yang lalu saya ke Bali sudah seperti itu.

Oleh karena itu, di saat ini, dibicarakan secara campur-campur, seakan-akan karya terkontemporer Bali ini, yang padahal esensinya masih sama, ia di ranah profan tetap ikut mecaru, dan tidak diterapkan oleh seluruh daerah Bali, lagi-lagi dilihat sebatas kebutuhan turisme oleh orang intelektual Bali-nya sendiri, iya memang benar adanya.
Namun, jika orang intelektual Bali masih melihat pandangan turisme—tourist gaze —saja, dia pun terperangkap pada pandangan itu sendiri.2 Akan terus ada yang memperalat dunia seni. Itu sudah lama terjadi. Yang jarang terlihat adalah siapa yang berhasil melawan itu dan berpendirian pada ideologinya. Kesenian telah lama menjadi bagian dari kemewahan; kesenian telah lama menjadi bagian dari politik, dan itu tidak terkecuali di Bali. Di antaranya yang menceritakan kejujuran lewat nyanyian, ukiran, menjadi artefak untuk masa depan. Lalu….
…Apa yang mau Anda ukir dalam zaman yang teknologi sungguh melampaui dari 17 tahun lalu saya kemBali?
Apa yang suhu-suhu ini ingin ceritakan sebenarnya?
Apakah ada lagi yang merasa tidak berdosa memprovokasi seni di Bali yang paling berkembang saat ini?
Apakah mereka paham yang mereka lakukan terhadap seni kontemporer Bali?
Sebagai akademisi seni yang selama ini di jalur aktivisme seni, saya, jujur, geram. Namun, inilah budaya visual Bali, yang membuat saya buntu. Bali sudah lama dikenal oleh orang Bali sendiri dan diasporanya, orang Bali bagai katak dalam tempurung. Saking kreatifnya, ia merasa paling hebat bisa bersabda, padahal sejatinya perdebatan adalah dua arah.
Ogoh-ogoh yang awalnya kesenian rakyat setahun sekali yang ditunggu berbagai kalangan, yang sekarang materialnya bisa diolah dari berbagai hal yang balik ke alam dan 3R (reduce, reuse, recycle), berbagai umur melakukannya menjadi bagian dari perkembangan kreativitas, sensori anak yang makin berkurang dimakan layar, ogoh-ogoh esensinya: melawan.

Suhu-suhu itu ngalamin nggak? Ke Kesanga Festival siang bolong, hari Sabtu, anak-anak datang dengan walinya, mau masih bawa tongkat Pramuka sekalipun, duduk di PAUD sampai SMP, mereka tidak sabar, tidak perlu pulang ke rumah dulu, si cerita Bhuta Kala yang seram itu adalah kunci kehidupannya.
Di sana mereka bisa belajar bentuk terbaru dari karya ogoh-ogoh, kemungkinan-kemungkinan berkarya yang bisa dicapai, menebak material yang dipakai, atau immerse dalam cerita, tetapi yang pasti nggak kalah memfoto depan ogoh-ogoh favoritnya. Keberadaan dan pembuat ogoh-ogoh telah melebihi apa yang bisa dicapai lulusan seni mana pun; tidak perlu menjadi bagian dari pembuat properti Stranger Things atau Hollywood lainnya untuk melatih kemampuannya. Mereka yang terinspirasi mendapat cara melakukan visual aktivisme yang paling bisa dicerna masyarakat Bali saat ini.3

Cerita-cerita lama diingatkan lagi, petuah-petuah penting tervisualisasi, rasanya dalam sebuah bentuk ogoh-ogoh yang dikerjakan sungguh-sungguh tidak pernah sekadarnya. Bhuta Kala itu tinggal bersama kita, masih ingat Sekala Niskala dalam kehidupan kita kan? Estetika Polisentris menyebut ini yang coba dicerabut oleh Estetika Barat, mencoba dibeda-bedakan.4
Oleh karena itu, kesetaraan kepercayaan pun tidak ada, tetapi ogoh-ogoh berhasil membawa eksistensi narasi estetika ala Polinesia bahkan Austronesia, di mana kita pun berumpun. Itu bisa ada lagi.56 Kepercayaan Bedawang Nala dan berbagai Barong dan Rangda-nya adalah beberapa turunan yang masih kita temui.
Di sisi lain, saya sebenarnya kesal karena Kasanga Fest dan Fest Fest lainnya ada sebelum pengrupukan. Namun, mengikuti hal-hal ini merupakan pilihan dan tidak semua ikut juga. Esensi ogoh-ogoh harusnya tetap mengadakan pengarakkan–bahkan dengan penilaiannya–seperti yang lalu di malam pengrupukan saja. Namun, sepertinya beda masa beda cara time management-nya.
Poin vitalnya, keberadaan lomba ogoh-ogoh telah menjadi esensi akan pencapaian kreator pemuda-pemudi Banjar yang sudah biasa melihat perlombaan ini terjadi sejak mereka kecil, bahkan sejak lahir. Adrenalin pencapaian ini yang diinginkan sebagai tolak ukur, tidak perlu go international dulu, yang penting go-Kodya atau go-Kabupaten dulu.

Ogoh-ogoh menjadi satu bentuk kesenian Bali yang merakyat karena ia tidak terikat pada strata. Seseorang bisa menjadi arsiteknya atau pemokoknya dan seseorang bisa nyantrik (belajar) darinya. Ini telah menjadi praktik lama berkesenian di Bali sebelum ada akademisi seperti saya. Menariknya, seiring zaman, tidak lepas juga teman-teman akademisi seni saya, kolega seni, alumni dan mahasiswa didikan saya, juga menjadi para arsitek ogoh-ogoh terkini.
Ogoh-ogoh telah dan masih menjadi cara melawan lupa, mungkin harusnya makin banyak yang berkreasi lewatnya, tidak apa lewat bantuan seorang arsitek karena ogoh-ogoh adalah seni bersifat komunal.
Tahukah para suhu? Di luar sana, seni kontemporer telah berkoar-koar tentang pentingnya public art, socially engaged art, community art untuk membuahkan keadilan yang sejati.
Ogoh-ogoh esensinya penetralisir kan?
Jika memang sekarang tidak ada yang bertani lagi, kita bisa mengingatkan sesama untuk menanam lagi, menjaga kehidupan, dan mendukung ketahanan tanah sambil menunggu kapan pun alam ingin menghampiri kita lagi, dan satu cara adalah lewat seni kontemporer Bali: ogoh-ogoh.
Saya malah mulai bertanya tentang persawahan karena sebelum sawah ada, Bali sejatinya gunung-gunung dengan alam hutannya. Di desa saya keduanya bisa hidup dengan segala polemiknya juga, lalu kenapa di tempat lain tidak bisa?
Segala hal yang kita lakukan disini tidak pernah tidak ada unsur komunal, jadi kenapa seakan takut mengingatkan komunal itu dan berlindung dibalik keberadaan tourist gaze lagi?
Dengan itu, menurut keyakinan saya, ayo berproseslah bersama. Kita sudah punya bentuk yang kita bisa adaptasi. Break that if you have the will; if you have your so-called human powers, pikir ulang, ulang lagi.
Sejatinya kita hidup bukan di sejarah maupun sejarah seni tetapi di budaya visual yang hidup sehidup-hidupnya dengan cara adaptasi dan keberadaan Desa-Kala-Patra.
Karena di dunia yang penuh kala ini, seharusnya bentuk seni kontemporer Bali ini pengingat hidup bersamanya, bukan meninggalkannya.
Jika ogoh-ogoh meresahkan anda, mungkin kala telah…..

Catatan Kaki:
- KASANGA Exhibition di SAKA Museum, Ayana Resort, Jimbaran, Bali
- John Urry (2002) The Tourist Gaze. London: SAGE Publications
- Nicholas Mirzoeff (2015) How to See the World. UK: Penguin
- Ella Shohat dan Robert Stam (1998), “Narrativizing Visual Culture,” dalam The Visual Culture Reader. Ed. Nicholas Mirzoeff. New York: Routledge
- Irit Rogoff (2000) Terra Infirma: Geography’s Visual Culture. London: Routledge
- William Pietz (2003). “Fetish” dalam The Art of Art History: A Critical Anthology (New Edition). Oxford: Oxford University Press