Search
Close this search box.

Kajian Artistika dalam Seni Kontemporer Bali: Catatan Kritis Moderator

Sebuah diskusi yang menemukan perbedaan antara disiplin (ilmu) dan ilmu, langkah-langkah berkesenian dalam menghadapi kecerdasan buatan, dan pengandaian mengenai pendidikan seni di Indonesia.

Tahun ini Program Studi (Prodi) Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Bali mengadakan pameran beserta aktivasinya di luar pulau asalnya. Dosen-dosen Prodi tersebut menyeberang ke pulau di baratnya yang sebenarnya bukan pertama kalinya dilakukan. Ia merupakan semangat yang telah dibangun sejak lama, sejak Prodi itu bernaung di bawah nama institusi sebelumnya. Unjuk karya kali ini juga mengajak beberapa dosen dari institusi seni lainnya seperti ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ITB Bandung dan IKJ Jakarta.

Poster Pameran “Sebelum Bentuk Menjadi Padat” (Foto: Dok. Pameran “Sebelum Bentuk Menjadi Padat”) 

“Sebelum Bentuk Menjadi Padat” adalah tajuk yang diangkat oleh Pameran Seni Visual Prasangsa 2026 di Jogja Gallery, Yogyakarta. Tajuk ini berangkat dari perhelatan internasional BGAAD–Bali Global Axis of Art and Design–yang diadakan setiap tahun sejak 2024. Cakupannya melibatkan kampus-kampus di Asia-Oceania dan tahun ini menjunjung tema Jiwa-Jagad-Junjung. Pembahasan tentang seni Nusantara, terutama pada interpretasi seni wayang, menghasilkan sebuah temuan, yaitu tiga subtema: ritme, dualisme yang saling membangun, dan metafora sebelum bentuk menjadi padat, seperti sesuatu yang akan menjadi (becoming), serta yang di antara (in-betweenness). 

Poster Diskusi Publik “Kajian Artistika dalam Seni Rupa Kontemporer Bali” (Foto: Dok. Pameran “Sebelum Bentuk Menjadi Padat”)

Di saat yang langka ini, Pameran Prasangsa pun mengadakan aktivasi, yaitu sebuah diskusi publik bertajuk “Kajian Artistika Dalam Seni Rupa Kontemporer Bali” pada tanggal 28 Mei 2026. Pada diskusi ini, Rektor ISI Bali, Prof. I Wayan “Kun” Adnyana, dan Dosen Prodi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta, Sudjud Dartanto, menjadi narasumber. Diskusi ini bermula dari Pak Kun yang memberikan pandangannya tentang tema yang diusung, lalu direspons oleh Mas Sudjud. Sebagai moderator acara ini, saya memiliki catatan-catatan menarik yang dapat menjadi catatan bersama sebagai pengajar seni.

Disiplin dan Ilmu dalam Pengajaran Seni Bali

Disebutkan selama pemaparan bahwa pendidikan seni di Indonesia merupakan warisan modernisme Barat yang mengenalkan berbagai aspek artistik yang berkaitan dengan apa yang terjadi dan eksis di Barat. Yang ditangkap, capaian-capaian estetika dan artistika Barat menjadi tumpuan pencapaian daripada apa yang telah terbentuk di masing-masing daerah di Indonesia. Oleh Pak Kun, ia ingin menyoroti capaian seni rupa dan desain ISI Bali, baik dari dosen, mahasiswa, maupun alumni, serta capaian tersebut menjadi mazhab tersendiri yang bisa disebut school of ISI Bali. Ia melihat bahwa ini diperkenalkan kepada publik dengan perkembangannya selama 60 tahun sejak ASTI menjadi STSI yang bergabung dengan PSSRD Universitas Udayana dan menjadi ISI Denpasar yang sekarang berlanjut dengan nama ISI Bali. 

Sedangkan masalah kekinian dalam birokrasi Indonesia, penerimaan dosen dan guru pada sekolah vokasional negeri (SMK dan SMSE) maupun perguruan tinggi negeri (PTN) yang konon objektif, malah kadang ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kompetensi spesifik pada seni dan/atau desain. Jika dalam jenjang vokasional saja tidak mendapatkan guru yang tepat, maka bagaimana mengajarkan konsep-konsep mengolah benda menjadi medium artistik sejak awal? Kun kemudian juga menyinggung mengenai penguatan vokasional dan akademik melalui atau menemukan school of thought yang tepat sehingga dapat menjadi bahan ajar yang dapat diimplementasikan. Contohnya adalah membuat museum yang menceritakan school of ISI Bali kepada generasi selanjutnya.

Diskusi “Kajian Artistika Dalam Seni Kontemporer Bali” di Jogja Gallery (Foto: Dok. Penulis)

Atas paparannya, Pak Kun melihat ada perbedaan antara disiplin (ilmu) dan ilmu. Ilmu dilihatnya sebagai sains yang didapatkan melalui metode dan kerangka tertentu. Dalam seni, hal tersebut mencakup pengayaan penggunaan material serta metode penciptaan atau pengkajiannya. Sedangkan disiplin dalam ilmu seni bisa dibedah lagi, walau ia adalah disiplin ilmu yang turunannya dari ilmu yang disebut tadi. Dalam ilmu, apa saja belum tentu seni, namun dalam penjelajahan disiplinnya ia bisa sangat beragam sebagai sistem pengetahuan. 

Saat ditanya tentang mazhab, sebagai kata yang sangat berhubungan dengan modernisme, yang dibungkus dalam pertanyaan, apakah bisa dalam istilah lain atau tidak berbau modernisme dalam ranah kontemporer ini? Pak Kun justru melihat sistem modernisme itu tetap penting untuk menjadi yang baru, selalu ada ruang kosong, dengan nilai yang masih tinggi dan ajeg sampai sekarang. 

Perkembangan Pengetahuan Seni dan Kreasi di Pengajaran Seni

Narasumber kedua, Mas Sudjud, menyebutkan bahwa dalam berdialog tentang wacana universitas, yang diwariskan oleh pendahulu adalah warisan ilmu atas dasar kerja terdisiplinkan dengan keberagaman. Hal ini adalah warisan modernisme yang kita dapatkan karena proyek modernisme termasuk pendidikan seni itu sendiri. Oleh karena itu, muncul penelitian dengan perspektif negara-negara Global South dan kecenderungan mencari yang dijanjikan oleh pendidikan seni sebagai pendidikan yang dapat mewadahi emansipasi dan equality

Secara dimensi historis, seni itu memungkinkan untuk keluar dari zona nyaman, serta memungkinkan untuk mempertemukan praktisi seni dan pengajar; penelitian menjadi tempat terintegrasi universitas dan histori. Yang akhirnya membuat pengetahuan baru atau produksi pengetahuan. Beberapa contoh ada pada bacaan-bacaan postmodernisme Barat seperti Michel Foucault yang mengangkat lukisan “Las Meninas” oleh Velázquez dalam bukunya The Order of Things

Diskusi “Kajian Artistika Dalam Seni Kontemporer Bali” di Jogja Gallery (Foto: Dok. Penulis)

Dengan Visual Culture atau budaya visual yang makin berkembang dengan cepat, belum lagi keberadaan Artificial Intelligence atau AI, lewat disiplin seni, kita dapat melihat ruang kosong yang selalu ada. Di sini, Sudjud belakangan teringat pada terma creation ex nihilo yang artinya creation out of nothing atau penciptaan dari ketiadaan. Kehidupan seni itu bisa memberikan kebebasan, namun di satu sisi ia merupakan disiplin di mana bentuk atau form itu penting. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasional penting sebagai basic training. Garis, warna, hal-hal mendasar seperti Nirmana adalah hal-hal penting. Belum lagi medianya berpindah ke media baru yang bersifat media rekam atau digital. Logic of media menjadi sangat vital, apalagi dengan adanya AI yang disebut sebagai spesies baru yang hidup bersama kita dan “spesies yang adaptif“. Hal ini menjadi gong dalam diskusi ini karena Sudjud juga mempertanyakan wajah penelitian di pendidikan seni ke depannya. 

Perihal Artistika dalam Pendidikan Seni di Indonesia

Ada berbagai pernyataan dan pertanyaan yang menjadi bagian dari diskusi yang hangat dan terbuka hari itu, apalagi dengan Sudjud mempertanyakan wajah penelitian pendidikan seni ke depannya. Bahkan sebagai moderator, saya dapat menyimpulkan sementara bahwa persoalan dunia seni rupa, desain, dan pendidikan seni ini masih penuh pertanyaan terbuka yang perlu dicarikan jawabannya bersama-sama. Jika bisa, malah saling mengisi serta berkolaborasi ke depannya. Setelah diskusi berlangsung, teringat kembali pernyataan Pak Kun yang membedakan disiplin dan ilmu. Ternyata, hal ini sempat menjadi bahasan lanjutan untuk Sudjud dan Pak Kun lagi dalam membahas disiplin, kreasi dan AI. 

Diskusi “Kajian Artistika Dalam Seni Kontemporer Bali” di Jogja Gallery (Foto: Dok. Penulis)

Sudjud mempertanyakan apakah disiplin itu juga menjadi batas (karena argumennya adalah disiplin bisa dibedah lagi dalam seni), apakah sebagai perupa kita terbatas dalam creation (kreasi)? Sudjud justru melihat kembali spiritualitas, konektivitas, sains yang menghasilkan teknologi, pijakan kosmologis, yang menjadi kreasi manusia di saat AI bergejolak, tetap terlihat atau dilihat kembali karena seni. Dengan ini, pemahaman yang didapatkan adalah bahwa manusia telah berhasil memiliki pemikiran sampai adanya literasi dan artefak yang mendukung terwujudnya, tidaklah lepas dari bagaimana kehidupan berkebudayaan manusia sendiri telah berjalan. Pak Kun melihat bagaimana menghadapi fenomena AI ini kembali ke etik seorang perupa, desainer dan pengajar. Regenerasi dan resilience atau ketahanan itu sejatinya berjalan bersama dalam pendidikan seni. Maka, jika ada gejolak seperti AI, hal tersebut kembali kepada kita sendiri sebagai manusia dalam mengolah situasi, posisi, dan kondisi. 

Pemantik awal judul diskusi “Kajian Artistika Dalam Seni Kontemporer Bali” akhirnya menjadi pembicaraan yang lebih luas lagi. Perbincangan ini meliputi keberadaan pendidikan seni dari masa lampau sampai masa kini di Indonesia. Tidak hanya mendengar yang terjadi di Bali dengan representasi Pameran “Sebelum Bentuk Menjadi Padat”, tetapi juga yang terjadi di Yogyakarta. Ada banyak poin yang tidak mudah diluruskan begitu saja pada saat diskusi berlangsung, namun lebih tepat jika bisa menjadi catatan bersama bagi pengajar seni, periset seni, dan perupa untuk saling mengisi dan berpikir kritis dalam dunia seni rupa yang lajunya terlihat akan lebih cepat lagi.[]