Banksy mungkin saja tipuan, telah mati beberapa tahun lalu di Wonogiri, ia slogan yang tak sengaja meluas, atau ternyata orang Pejaten. Tapi, faktanya, dia hadir dalam kenyataan. Sebagai ide. Dan ide Banksy adalah kritisisme atas kekuatan ekonomi, politik, dan ketimpangan relasi sosial. Maka ia terus hidup, selama apa yang dilawannya bertahan.
Setelah Banksy eksis, dampak yang ditimbulkannya luar biasa. Sampai ada istilah untuknya, yaitu Banksy Effect. Di Indonesia, di mana seni jalanan (street art) dimiskonsepsi sebagai vandalisme, atau lebih absurd lagi anarkisme, efek itu terasa. Banyak karya yang punya kecenderungan Banksy. Tidak dalam bentuknya, tetapi spirit kritisismenya. Misalnya saja mural Tuhan Aku Lapar atau Jokowi 404 Not Found, yang memuat kritik kepada Pemerintah. Jika nun jauh di Inggris sana Banksy berkarya dengan bebasnya, di sini apa kabar?

Uraian di atas adalah landasan utama dari acara Banksy: Geger Street Art Abad-21 yang diselenggarakan 20 Juni lalu. Di bawah lampu disko Eskala, Banksy diurai. Peluncuran buku dan diskusi buku Banksus Militus Vindalus; Jalanan dan Jalan Banksy ini menghadirkan narasumber yang merupakan pelaku seni jalanan di Indonesia, yakni Ahmad Sulton (penulis buku Banksus Militus Vindalus; Jalanan dan Jalan Banksy), Andrew ANTI-TANK PROJECT (street artist), dan MUCK (street artist). Ketiganya menyampaikan pemaparan secara bergantian dengan dipandu oleh Luna Chantiaya, mahasiswa Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta.
Ketiga narasumber memaparkan Banksy dan menyisakan banyak pertanyaan tentang kabar seni jalanan di Indonesia. Saya, sebagai audiens, seperti diarahkan pada kerunyaman ekosistem dan infrastruktur pengetahuan seni jalanan. Ada pertanyaan yang mendesak dan mengganggu sepanjang diskusi: Apa yang jalanan dari seni jalanan di Indonesia?

Sesi pemantikan diskusi oleh Ahmad Sulton. (Foto: Primastri Jati)Seni “Jalanan”
Pertanyaan itu masih beku sampai pada pembicaraan tentang perseteruan Banksy dan King Robbo yang disinggung Sulton dan MUCK. Peristiwa itu adalah pertarungan panjang Banksy dengan King Robbo, senior street artist di Inggris. Bagi seniman jalanan di Indonesia, menimpa karya adalah tabu. Namun, Banksy dan King Robbo menunjukkan bahwa komunikasi ini penting untuk menghidupkan ekosistem.
MUCK melanjutkannya dengan mempertebal bahasan tentang King Robbo. Peperangan ini adalah salah satu pembahasan yang disorotinya dalam buku yang disusun Sulton. Pertarungan ini dimulai pada 2009, ketika grafiti yang dibuat King Robbo pada 1985 ditimpa dan dimodifikasi oleh stensil. Maka King Robbo bangkit dari sunyinya. Perseteruan itu berakhir pada 2014, ketika King Robbo tutup usia setelah berjuang dengan komanya. Melihat peristiwa ini, MUCK mengharapkannya hadir di Indonesia sebagai penyegaran pola komunikasi antar pelaku grafiti. Di sini, jalanan berarti keterbukaan untuk mengkritik, bahkan kepada sesama pelaku seni jalanan.
Dalam pemaparan Sulton, yaitu pembuka, dijelaskan jejak kekaryaan Banksy sejak permulaannya hingga hari ini. Didasari perenungannya atas peristiwa-peristiwa Banksy, Sulton membaca bahwa Banksy merupakan seniman dengan dampak yang besar. Sejalan dengan itu, Andrew mengamininya, bahwa Banksy sempat mempengaruhi penciptaan stensil di Yogyakarta. Hal itu ditandai dengan munculnya karya-karya stensil di jalan Mataram, Kota Yogyakarta beberapa tahun lalu.Andrew juga menjelaskan figur tikus-tikus hitam yang Banksy sering gambarkan dalam stensil-stensilnya. Tikus-tikus hitam diinterpretasikan sebagai kelas bawah, yang hidup tidak layak. Di sini, jalanan berarti menyuarakan suara yang termarjinalkan, orang-orang terpinggirkan.

Namun perlu diingat, Andrew bilang, figur tikus hitam Banksy tidak tercipta dari ruang kosong hampa udara, ia terinspirasi orang lain, yaitu seniman grafiti asal Perancis bernama Blek le Rat. Ia pria kelahiran 1969, telah memulai karir stensil sejak 1981, sebelum Banksy yang baru mulai tahun 1999 lewat The Mild Mild West.
Lalu, di sesi diskusi, ada seseorang bertanya: di manakah jalanan ketika seni jalanan dibawa ke white cube atau form seni kontemporer seperti yang dilakukan Banksy di Dismayland? Juga ada yang bertanya lain lagi: apakah jalanan itu hilang ketika mengkritik tidak lagi kerangka dasarnya?

Tanda tanya itu cepat menguap. Pertanyaan dijawab bahwa jalanan bukanlah bentuk, bukan juga isi. Jalanan adalah ide, seperti Banksy. Ia tidak hilang karena bentuk yang berubah. Ia tidak hilang hanya karena tidak mengkritik. Seni jalanan hadir, pada mulanya, dari orang-orang yang tidak memiliki akses pameran seni rupa yang elite dan mahal, kata Sulton. Maka, mereka menggambar di gerbong-gerbong kereta, dinding-dinding, dan seterusnya. Di sini, jalanan berarti ruh jalanan itu sendiri: keras.
Akhir diskusi, ketiga narasumber bersepakat bahwa Banksy dan proses penciptaan karya-karyanya patut direnungi untuk keberlangsungan ekosistem seni jalanan di Indonesia yang masih jauh dari sempurna. Sebab seni jalanan kita jomplang. Di satu sisi, pada 2021 itu, produksi karya seni jalanan kita sangat baik. Subur. Banyak mural dan stensil bermuatan kritik yang muncul. Di sisi lain, banyak program pemerintah untuk menghapusnya. Peristiwa 2021 lalu menunjukkan itu, yaitu ketika mural Jokowi 404 Not Found dan mural-mural kritik lain dihapus.

Pada kenyataanya, penguasa terbukti kerap terjebak pada geografi kecemasan, di mana mereka gagal menubuhkan kontur-kontur konseptual yang mendasar atas seni jalanan dan pembedanya dengan vandalisme. Lebih absurd lagi, dengan anarkisme. Maka, mereka mencemaskannya, berkat interpretasi mereka yang menangkap sinyal provokasi dalam mural yang dimaksud. Setiap Rezim punya monsternya masing-masing, dan, hari ini, monster yang ditunjuk adalah kebebasan berekspresi.
Kecelakaan konseptual ini harus diakui merupakan tenaga tambahan bagi perkembangan ekosistem seni jalanan (di) Indonesia. Bahwa, kegagalan Penguasa (dan yang mendukung di baliknya) ini patut dicurigai sebagai seratnya distribusi pengetahuan atas seni jalanan. Kasus kekaryaan Banksy, dalam hal ini, dapat dibaca sebagai pelajaran. Dan, rasanya, tiada lain yang bisa kita lakukan selain terus menggambar dan berbicara. Di sini, jalanan berarti kebebasan.