Search
Close this search box.

Simposium Khatulistiwa 2026: Bukankah Kerja Kurasi ibarat Nukang hingga Nurturing?

Kerja kuratorial adalah kerja pertukangan yang memikirkan mereka yang perlu diingat, ditampilkan, dirawat, dan dinegosiasikan. Tak luput untuk membongkar pasang arsip, sejarah, ruang, medium, pengetahuan, bahkan sang seniman itu sendiri dan publik.

Sejak pukul 09.40 pagi hingga 17.20 sore pada hari Rabu, 23 September 2026, Auditorium IFI Yogyakarta tampak riuh dengan peserta yang hendak mengikuti jalannya Simposium Khatulistiwa 2026. Simposium ini menghadirkan tujuh pembicara yang menyampaikan gagasan mereka. Terbagi dalam lima sesi, gagasan mereka berada di bawah satu payung: Niti Rumat—lebih spesifik, Niti Rumat: Curatorial Practice and Questions of Urgencies. Pemikiran yang disampaikan mengajak publik untuk merefleksikan kerja-kerja kuratorial di tengah situasi sosial-politik yang terus berubah.

Praktik kuratorial dijadikan tema utama karena dianggap telah mengalami pergeseran dari segi metode kerja maupun relasinya dengan pelbagai pihak. Hal ini merupakan imbas dari ekosistem seni dan perkembangan geopolitik yang terus berubah. Terlebih, dalam konteks Indonesia, perubahan ini kian terasa; terlihat pada praktik kuratorial yang telah tumbuh di ruang inkonvensional yang memungkinkan pengetahuan, ideologi, dan pengalaman saling bertemu dan bernegosiasi. Pada akhirnya, setiap kurator mengembangkan pendekatan, metode, dan posisi etiknya masing-masing yang mampu menyesuaikan diri dengan situasi praktik kuratorial yang kian berkembang ini.

Pembukaan Simposium Khatulistiwa 2026 dengan tema Niti Rumat. (Foto: Dok. Simposium Khatulistiwa 2026)

Dengan tema Niti Ruwat, tujuan dari simposium ini adalah untuk melihat lebih jauh mengenai praktik kuratorial dalam kerja-kerja kesenian, tak luput juga kerja kebudayaan di dalamnya. Beberapa aspek menjadi dasar dalam proses kuratorial: pengetahuan, memori, ruang, media, bahkan proses mengumpulkan informasi dari aspek-aspek tersebut—dengan kata lain, proses belajar itu sendiri. Aspek-aspek ini menjadi pokok bahasan bagi masing-masing pembicara karena hal ini perlu dipelihara dengan cermat dan ditata; menata yang baru atau yang telah ada. 

Proses-proses ini menjadi dasar bagi kelima sesi simposium. Asmudjo Juno Irianto bersama Khoirul Anam, sebagai moderator, membicarakan kuratorial sebagai politik pengetahuan. Kemudian, ada Putra Hidayatullah, didampingi oleh Arami Kasih, membahas mengenai merawat memori. Pada sesi berikutnya, Grace Samboh memberikan pandangannya mengenai merawat ruang. Ia meminjam judul karya buatan Handiwiman Saputra, “Akal Tak Sekali Datang, Runding Tak Sekali Tiba.” Diskusi pascapemaparan materi yang dipandu oleh Rifki A.P. berjalan seru. Materi yang disampaikan Grace Samboh mampu memancing pertanyaan dari para audiens. 

Tiga sesi tersebut berlangsung selama kurang lebih lima jam. Tanpa jeda dari sesi ketiga menuju sesi keempat, proses kuratorial pada ekosistem berbasis digital menjadi pokok bahasan yang diulas oleh Jeong Ok Jeon yang didampingi oleh Min Seok Kim sebagai moderator diskusi. Sesi terakhir diisi oleh tiga peserta kelas kuratorial Asana Bina Seni. Mereka adalah Hilmi Rayhan, Pujo Nugroho, dan Adam Sudewo. Hasil studi pendahuluan mereka menjadi bahan diskusi yang dikawal oleh Ladija Triana Dewi.

Alia Swastika saat membuka simposium (Foto: Dok. Simposium Khatulistiwa 2026)

Sebelum memulai sesi, Margaux Nemmouchi, selaku Direktur IFI Yogyakarta, dan Alia Swastika, Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta, membuka Simposium Khatulistiwa 2026. Dalam pidato sambutannya, Margaux dan Alia menyoroti peran simposium ini dalam kerja kesenian. Margaux melihat bahwa simposium dapat menjadi wadah untuk menerapkan pendekatan filosofis sehingga audiens dan semua yang terlibat dapat melihat kembali relasi kuasa, identitas, dan kebudayaan pada hari ini. Serupa, Alia melihat simposium ini sebagai ruang pertemuan aktivis, seniman, praktisi, akademisi, dan pihak-pihak yang berkecimpung di dalamnya untuk membahas seni sebagai bagian dari persoalan publik. Alia juga menyinggung mengenai kerja kuratorial yang menjadi topik utama simposium kali ini. Berakhirnya sambutan Alia, sesi Simposium Khatulistiwa 2026 resmi dimulai.

Memahami Proses Kuratorial

Kerja kuratorial dianggap oleh Grace Samboh sebagai proses ketukangan. Menurut Grace, kerja kuratorial, khususnya dalam membuat pameran, perlu memikirkan alat dan bahan layaknya seorang tukang. Terdapat ruang, benda, dan orang yang menjadi alat dan bahan yang perlu dicermati dalam pembuatan pameran. Pertanyaan seperti: Ruang mana yang akan dipakai sebagai ruang pamer? Mengapa di sana? Benda apa saja yang akan dipamerkan? Apa kaitannya benda tersebut dengan ruang yang digunakan? Siapa saja yang akan datang? adalah hal-hal yang menjadi perhatian di dalam proses kuratorial. Hal ini diamini oleh Putra Hidayatullah. Lebih-lebih, ia menyandingkan proses ini dengan proses yang dilakukan oleh tukang jahit sepatu. Menurutnya, tukang jahit sepatu tidak membuat sepatu menjadi indah, melainkan membuatnya berfungsi kembali. Namun, mengutip gagasan yang disampaikan Alia Swastika dalam sambutannya, aspek-aspek tersebut tidak dipilih begitu saja. Ada hal-hal yang bersifat politis yang membuat aspek-aspek tersebut perlu ditampilkan, diingat, bahkan dihapus sehingga aspek-aspek tersebut dapat berbunyi dan berfungsi. 

Grace Samboh menyampaikan gagasannya dalam sesi bertajuk Merawat Ruang: Akal Tak Sekali Datang, Runding Tak Sekali Tiba (Foto: Dok. Penulis)

Bagaimana ktia bsia mengerti bahwa hal tersebut dapat benar-benar berbunyi dan berbunyi? Dalam prosesnya, perlu adanya sebuah eksperimen. Mengutip Asmudjo J. Irianto,

Kita bukan dokter bedah. Tidak ada yang akan mati kalau kita salah. Kalau salah ya… tinggal minta maaf.

Kutipan ini mengajak kita untuk tidak takut mencoba—mencoba untuk menggabungkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki atau baru saja dimiliki tanpa perlu merasa terbebani untuk selalu benar. Hal demikian bisa terjadi dengan dilakukannya sebuah eksperimen atau uji coba. Lantas, bagaimana dengan hasil eksperimen ini dalam konteks kerja kuratorial? Jeong Ok Jeon mengajukan sebuah framework yang dapat digunakan dalam proses kuratorial.

To read → to match → to negotiate → to activate.

Framework ini pernah digunakan di Ars Electronica di Linz, Austria. Melalui eksperimennya, mereka menggunakan ruang pamer yang tidak umum. Tentu, bukan ‘ruang putih’ melainkan ruang-ruang publik: rumah sakit, gereja, dan universitas swasta yang menjadi ruang pamer. Dipilihnya ruang-ruang ini untuk menguji ruang yang sudah hidup agar kian hidup dengan menempatkan pengunjung sebagai bagian dari proses kuratorial karena mereka tidak hanya mengalami pameran itu, tetapi juga melengkapi pameran tersebut. Dalam proses ini, kota bukan menjadi latar pameran; ia adalah rekan dalam proses kuratorial. Oleh sebab itu, dapat dipahami bahwa praktik kuratorial adalah merawat hubungan antaraspek.

Mengalami Proses Kuratorial

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, praktik kuratorial tidak hanya mengatur karya, ruang, dan acara; di sana terdapat sebuah praktik politik. Sebuah praktik yang diejawantahkan dalam memikirkan mereka yang perlu diingat, ditampilkan, dirawat, dan dinegosiasikan. Melalui praktik ini, kurator menata ulang relasi antara arsip, sejarah, ruang, medium, pengetahuan, bahkan sang seniman itu sendiri dan publik. Proses ini membuat semua aspek saling terkait dan saling bergantung.

Aspek-aspek ini membentuk sebuah wacana yang dapat dibaca; ‘masalah’ sosial-politik tetap menjadi dasar dalam pembacaan sebuah karya. Dengan kata lain, penciptaan karya berangkat dari masalah sosial-politik dan membentuk sebuah wacana. Wacana ini juga akan berkembang ketika kurator menatanya dalam sebuah ruang pameran. Menurut Asmudjo, pembentukan wacana ini menjadi penting. Sebuah karya seni tidak hanya mempertimbangkan nilai estetikanya, tetapi juga wacana yang dibawanya karena hal tersebut dapat membentuk sebuah pengetahuan. 

Untuk mencari sumber dalam membentuk wacana ini, Putra Hidayatullah mengajak kita menggali pengetahuan di luar institusi formal seperti universitas atau museum karena ia menganggap bahwa institusi ini mengontrol pengetahuan publik. Tempat orang berkumpul dan berbagi pun dapat menjadi lumbung pengetahuan. Dari sini, pengetahuan yang direduksi, dipinggirkan, atau tidak dianggap dapat kembali terbuka dan diketahui. Sumber-sumber ini kemudian menjadi dasar pembentukan wacana yang melahirkan pengetahuan baru.

Putra Hidayatullah menyampaikan gagasannya dalam sesi Merawat Memori (Foto: Dok. Simposium Khatulistiwa 2026)

Proses-proses ini dijalani dan dikulik lebih jauh oleh para peserta kelas kuratorial Asana Bina Seni: Adam Sudewo, Hilmi Rayhan, dan Pujo Nugroho. Adam Sudewo mencoba menilik museum milik Keraton Cirebon, lalu ia menyandingkannya dengan Museum Bahari di Jakarta. Perbedaan antara dua museum dengan latar belakang sejarah yang hampir sama membuatnya mempertanyakan beberapa hal yang sampai saat ini masih perlu digali. Pembicara kedua, Hilmi Rayhan, mencoba merefleksikan pengalamannya saat menjadi pencatat seni di Jogja Biennale pada tahun 2024. Ia mempertanyakan peran masyarakat ketika desa mereka diaktivasi, termasuk pula cara sang aktivator bekerja di dalamnya. Pujo Nugroho menjadi pembicara terakhir. Ia mencoba mengulik mengenai kerja kuratorial sebagai praktik sosial. Pada simposium kali ini, hasil yang ditampilkan merupakan studi pendahuluan sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk menyempurnakan pengetahuan ini.

Setelah hampir tujuh jam simposium ini berjalan, menuju petang, acara ini resmi ditutup. Tampak hiruk-pikuk audiens berjalan keluar ruangan. Di sekitar IFI, sayup-sayup terdengar topik-topik tersebut masih dibicarakan, tentu secara lebih cair. Apakah ini menjadi praktik merawat pengetahuan, memori, ruang, dan proses belajar secara nyata, bukan hanya ‘teori saja’? Semoga tidak. []